<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
><channel><title>Skripsi</title><atom:link href="https://sobatsekolah.com/tag/skripsi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" /><link>https://sobatsekolah.com</link><description>Temukan informasi seputar pendidikan, teknologi, komputer, hiburan, tips dan trik terlengkap hanya di SobatSekolah.com</description><lastBuildDate>Thu, 21 Aug 2025 08:59:27 +0000</lastBuildDate><language>id</language><sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod><sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency><image><url>https://sobatsekolah.com/wp-content/uploads/2020/04/favicon-logo-sobatsekolah-150x150.png</url><title>Skripsi</title><link>https://sobatsekolah.com</link><width>32</width><height>32</height></image> <item><title>Skripsi, Antara Revisi Tanpa Henti dan Kekuatan Mental untuk Tetap Bertahan</title><link>https://sobatsekolah.com/pendidikan/skripsi-antara-revisi-tanpa-henti-dan-kekuatan-mental-untuk-tetap-bertahan/</link><comments>https://sobatsekolah.com/pendidikan/skripsi-antara-revisi-tanpa-henti-dan-kekuatan-mental-untuk-tetap-bertahan/#respond</comments><dc:creator><![CDATA[Ana Ramadhayanti]]></dc:creator><pubDate>Thu, 21 Aug 2025 08:49:33 +0000</pubDate><category><![CDATA[Pendidikan]]></category><category><![CDATA[Skripsi]]></category><category><![CDATA[SPSS]]></category><guid isPermaLink="false">https://sobatsekolah.com/?p=9271</guid><description><![CDATA[Sobatsekolah.com-Kalau hidup mahasiswa dibagi dalam bab, maka skripsi jelas menjadi bab paling dramatis. Ada air...]]></description><content:encoded><![CDATA[<p data-start="132" data-end="399"><b>Sobatsekolah.com-</b>Kalau hidup mahasiswa dibagi dalam bab, maka skripsi jelas menjadi bab paling dramatis. Ada air mata, ada kopi sachet yang menemani dini hari, ada doa-doa lirih supaya revisi dosen tidak berujung dengan kalimat legendaris, <em data-start="368" data-end="397">“ini ulangi dari Bab I ya.”</em></p><p data-start="132" data-end="399"><strong>Baca juga:</strong> <a href="https://sobatsekolah.com/pendidikan/skripsi-ngejar-gelar-sertifikasi-ngejar-karier-mahasiswa-ubsi-punya-dua-senjata-sakti/">Skripsi Ngejar Gelar, Sertifikasi Ngejar Karier! Mahasiswa UBSI Punya Dua Senjata Sakti</a></p><p data-start="401" data-end="648">Di atas kertas, skripsi terlihat sederhana: menyusun kalimat akademis, mencari teori, lalu menganalisis data. Namun di dunia nyata, skripsi adalah duel mental. Pertanyaannya bukan sekadar <em data-start="589" data-end="607">“kapan selesai?”</em> melainkan <em data-start="618" data-end="646">“aku masih kuat nggak ya?”</em></p><h2>Tekanan Skripsi: Bukan Sekadar Akademik</h2><p data-start="695" data-end="1033">Tekanan datang dari berbagai arah. Dari rumah, ada orang tua yang rutin bertanya, <em data-start="777" data-end="831">“Nak, kapan wisuda? Biar tetangga nggak nanya lagi.”</em> Dari media sosial, ada teman yang sudah upload foto toga dengan caption <em data-start="904" data-end="927">“Finally, I made it.”</em> Sementara kamu masih terjebak di Bab III, berdebat dengan SPSS yang enggan memberikan hasil signifikan.</p><p data-start="1035" data-end="1306">Tidak heran jika banyak mahasiswa akhir menjadi penghuni tetap lingkaran <em data-start="1108" data-end="1122">overthinking</em>. Bukan karena malas, tetapi karena mental terkikis rasa takut tertinggal. Rasanya seperti maraton orang lain sudah sampai garis akhir, sementara kamu masih berhenti di posko minum.</p><h2 data-start="1308" data-end="1352">Solidaritas Sunyi di Kalangan Mahasiswa</h2><p data-start="1353" data-end="1597">Menariknya, di tengah drama skripsi, lahir solidaritas sunyi. Di kampus, termasuk Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Cibitung, mahasiswa sering membuat kelompok belajar dadakan. Ada “tim Bab II” dan ada pula “squad revisi minggu ini.”</p><p data-start="1599" data-end="1837">Kalimat sederhana dari teman, seperti <em data-start="1637" data-end="1665">“Ayo kita kerjain bareng,”</em> sering kali lebih ampuh daripada teori manajemen waktu yang ditemukan di Google. Dukungan kecil itu mampu menurunkan rasa cemas sekaligus mengembalikan semangat menulis.</p><h2 data-start="1839" data-end="1888">Peran Dosen: Lebih dari Sekadar Tanda Tangan</h2><p data-start="1889" data-end="2219">Kini, banyak dosen menyadari bahwa bimbingan skripsi bukan hanya soal koreksi akademik. Ada sesi curhat terselubung di balik lembar konsultasi. Kalimat ringan dari dosen seperti, <em data-start="2068" data-end="2130">“Santai, kamu bisa kok. Yang penting jangan berhenti nulis,”</em> bisa membuat mahasiswa pulang dengan langkah lebih ringan, meski revisi tetap menanti.</p><p data-start="2221" data-end="2495">Survei Kompas (2024) bahkan mencatat, 6 dari 10 mahasiswa tingkat akhir mengalami stres berat saat menyusun skripsi. Artinya, kalau kamu sedang begadang sambil menahan air mata di depan laptop, kamu tidak sendirian. Itu realitas yang dialami banyak mahasiswa di Indonesia.</p><h2 data-start="2497" data-end="2551">Bimbingan Mental: Solusi Holistik untuk Mahasiswa</h2><p data-start="2552" data-end="2806">Beberapa kampus mulai menerapkan pendekatan holistik: bukan hanya bimbingan akademik, tetapi juga bimbingan mental. UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif, misalnya, menyediakan seminar motivasi, workshop manajemen stres, hingga ruang konseling mahasiswa.</p><h2 data-start="3045" data-end="3089">Skripsi, Lebih dari Sekadar Tugas Akhir</h2><p data-start="3090" data-end="3360">Pada akhirnya, skripsi bukan sekadar produk ilmiah. Ia adalah proses pendewasaan diri. Dari revisi yang tiada henti, mahasiswa belajar kesabaran. Dari tangisan tengah malam, mereka belajar bertahan. Dan dari dukungan dosen serta teman, mereka belajar arti kebersamaan.</p><p data-start="3362" data-end="3572">Jadi, ketika kamu merasa lelah, ingatlah bahwa skripsi hanyalah satu bab dalam perjalanan hidup. Bukan siapa yang paling cepat selesai yang penting, melainkan siapa yang tetap kuat menyelesaikan hingga akhir.</p><p data-start="3362" data-end="3572"><strong>Baca juga: </strong><a href="https://sobatsekolah.com/pendidikan/lulus-sarjana-tanpa-skripsi/">Lulus Sarjana Tanpa Skripsi? Simak Penjelasannya!</a></p><p data-start="3579" data-end="3904">Skripsi, antara bimbingan dosen dan bimbingan mental, bukan hanya soal akademik, melainkan juga tentang bagaimana mahasiswa menjaga keseimbangan diri. Dengan kombinasi keduanya, generasi muda bisa melewati fase ini bukan hanya dengan gelar sarjana, tetapi juga dengan mental yang lebih matang dan tangguh.</p>]]></content:encoded><wfw:commentRss>https://sobatsekolah.com/pendidikan/skripsi-antara-revisi-tanpa-henti-dan-kekuatan-mental-untuk-tetap-bertahan/feed/</wfw:commentRss><slash:comments>0</slash:comments></item><item><title>Skripsi Ngejar Gelar, Sertifikasi Ngejar Karier! Mahasiswa UBSI Punya Dua Senjata Sakti</title><link>https://sobatsekolah.com/pendidikan/skripsi-ngejar-gelar-sertifikasi-ngejar-karier-mahasiswa-ubsi-punya-dua-senjata-sakti/</link><comments>https://sobatsekolah.com/pendidikan/skripsi-ngejar-gelar-sertifikasi-ngejar-karier-mahasiswa-ubsi-punya-dua-senjata-sakti/#respond</comments><dc:creator><![CDATA[Ana Ramadhayanti]]></dc:creator><pubDate>Mon, 04 Aug 2025 09:00:53 +0000</pubDate><category><![CDATA[Pendidikan]]></category><category><![CDATA[Sertifikasi]]></category><category><![CDATA[Skripsi]]></category><guid isPermaLink="false">https://sobatsekolah.com/?p=9207</guid><description><![CDATA[Sobatsekolah.com &#8211; Di tengah gempuran realitas dunia kerja yang kian selektif dan tak lagi tunduk...]]></description><content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sobatsekolah.com</strong> &#8211; Di tengah gempuran realitas dunia kerja yang kian selektif dan tak lagi tunduk pada angka IPK semata, Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Kaliabang tampil beda. Di saat banyak mahasiswa masih sibuk mengejar kelulusan formalitas, mahasiswa Prodi Sistem Informasi UBSI justru melangkah lebih jauh: mengikuti Uji Sertifikasi Kompetensi Skema Analis Program, sebuah tantangan nasional yang menguji kemampuan riil mereka sebagai calon profesional IT. Ini bukan lagi soal hafalan teori, tapi unjuk bukti: apa kamu benar-benar bisa?</p><p><strong>Baca juga: <a href="https://sobatsekolah.com/tips/4-tips-mengerjakan-skripsi/">Ingin Lancar Dalam Mengerjakan Skripsi? Yuk, Simak 4 Tips Agar Cepat Lulus Kuliah</a></strong></p><p>Di saat sebagian mahasiswa mungkin sedang bergulat dengan bab 3 skripsi atau galau karena nunggu balasan dosen pembimbing, sekelompok mahasiswa Prodi Sistem Informasi di UBSI justru naik level. Mereka nggak lagi sekadar belajar, tapi juga diuji. Bukan ujian biasa, melainkan Uji Sertifikasi Kompetensi Skema Analis Program yang berlangsung selama dua hari, 28-29 Juli 2025. Serius. Ini uji kemampuan tingkat Nasional, bukan cuma latihan bikin form login atau CRUD di Laravel.</p><p>Bayangin, kamu duduk di hadapan asesor profesional, dicecar soal gimana cara menganalisis sistem, bikin desain solusi, sampai nulis dokumentasi teknis. Bukan cuma menjawab, kamu harus nunjukin kalau kamu emang bisa. Kayak ditantang masak rendang langsung sama chef Gordon Ramsay, tapi versi IT.</p><p>Ujian ini dilaksanakan di Tempat Uji Kompetensi (TUK) UBSI Kampus Kaliabang dan disusun berdasarkan standar dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang sudah terdaftar di bawah pengawasan BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi). Alias, sertifikatnya bukan kaleng-kaleng. Di dunia kerja, ini bisa jadi golden ticket, apalagi kalau saingannya masih sibuk ngandelin pengalaman magang dua bulan yang cuma isi absensi.</p><p>Menurut Kepala Kampus UBSI kampus Kaliabang, Muhamad Tabrani, sertifikasi ini bukan cuma formalitas buat dipajang di map kuning. Ini strategi kampus buat bikin lulusannya nggak cuma lulus, tapi juga laku. Karena, ya jujur aja, zaman sekarang ijazah S1 doang kadang belum cukup buat jadi senjata melawan realitas dunia kerja yang kerasnya kadang ngalahin patah hati.</p><p>Mahasiswa yang ikut uji kompetensi pun kelihatan sumringah. Ada rasa bangga, tentu. Tapi juga ada semacam kelegaan, bahwa kuliah mereka di UBSI bukan cuma soal mengerjakan tugas dari LMS atau nunggu giliran presentasi. Mereka sadar, dengan sertifikat kompetensi di tangan, mereka udah selangkah lebih dekat ke pintu dunia kerja yang kadang cuma kebuka buat orang-orang yang punya lebih dari sekadar teori.</p><p>Dan buat kamu yang masih mikir kuliah itu cuma buat ngumpulin SKS demi wisuda, mungkin ini saatnya kamu mikir ulang. Karena kuliah harusnya bukan cuma soal jas almamater, toga, dan upload foto keluarga di hari kelulusan. Tapi juga soal bekal nyata buat bertarung di luar kampus. Sertifikasi kayak gini salah satu bentuknya.</p><p>Jadi, kalau kamu masih nyari kampus yang bukan cuma jualan janji manis di brosur, tapi beneran ngasih kamu amunisi buat survive di dunia kerja, UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif bisa jadi jawabannya. Bukan cuma diajarin teori, kamu juga bakal dibekali sertifikasi kompetensi sejak masih jadi mahasiswa. Praktis, relevan, dan yang paling penting, diakui industri.</p><p><strong>Baca juga:</strong> <a href="https://sobatsekolah.com/pendidikan/sertifikasi-profesi-bagi-mahasiswa/">Pentingnya Sertifikasi Profesi bagi Mahasiswa agar Siap Kerja dan Unggul di Dunia Profesional</a></p><p>Tertarik? Jangan cuma jadi penonton. Mampir ke <a href="https://pmbubsi.id/pmb" target="_blank" rel="noopener">https://pmbubsi.id/pmb</a>, atau unduh aplikasi BSI PMB di Play Store. Siapa tahu, sertifikat kompetensi itu adalah jembatanmu menuju pekerjaan impian dan hidup yang nggak cuma scroll lowongan kerja doang.</p>]]></content:encoded><wfw:commentRss>https://sobatsekolah.com/pendidikan/skripsi-ngejar-gelar-sertifikasi-ngejar-karier-mahasiswa-ubsi-punya-dua-senjata-sakti/feed/</wfw:commentRss><slash:comments>0</slash:comments></item><item><title>Lulus Sarjana Tanpa Skripsi? Simak Penjelasannya!</title><link>https://sobatsekolah.com/pendidikan/lulus-sarjana-tanpa-skripsi/</link><comments>https://sobatsekolah.com/pendidikan/lulus-sarjana-tanpa-skripsi/#respond</comments><dc:creator><![CDATA[Muhammad Rifqi Firdaus]]></dc:creator><pubDate>Fri, 18 Oct 2024 10:01:24 +0000</pubDate><category><![CDATA[Pendidikan]]></category><category><![CDATA[sarjana]]></category><category><![CDATA[Skripsi]]></category><guid isPermaLink="false">https://sobatsekolah.com/?p=8168</guid><description><![CDATA[Sobatsekolah.com &#8211; Melansir dari laman kompas.com dan Ketentuan Syarat Kelulusan Permendikbudristek (Peraturan Menteri Pendidikan, Keduayaan,...]]></description><content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sobatsekolah.com &#8211;</strong> Melansir dari laman <strong><a href="http://kompas.com" target="_blank" rel="noopener">kompas.com</a></strong> dan Ketentuan Syarat Kelulusan Permendikbudristek (Peraturan Menteri Pendidikan, Keduayaan, Riset dan Teknologi) Nomor 53 tahun 2023, bahwa saat ini Mahasiswa Tingkat Sarjana atau Strata 1 tidak diharuskan lagi untuk membuat Skripsi sebagai syarat kelulusan.</p><p><strong>Baca Juga : <a href="https://sobatsekolah.com/pendidikan/sarjana-sistem-informasi/">Dapat Gelar Sarjana Sistem Informasi, Bisa Jadi Apa?</a> </strong></p><p>Hal ini karena untuk memudahkan Perguruan inggi (PT) menjadi lebih fleksibel dalam menyesuaikan pembelajaran secara relevan dengan dunia luar kampus. Selain itu, Perubahan syarat kelulusan ini juga sangat membantu mahasiswa dan juga Perguruan Tinggi dalam merancang proses bentuk pembelajaran dan keilmuan yang sudah diampu selama di Perguruan Tinggi agar menjadi tidak kaku.</p><p>Hanya saja, perlu ditekankan sebagai pengganti skripsi, mahasiswa juga wajib mengerjakan proyek lain sebagai pengganti skripsi.  Karena pembuatan skripsi sebagai syarat kelulusan atau tugas akhir kini bisa bermacam-macam. Bisa berupa <em>prototipe</em>, proyek, hingga bentuk lain sesuai dengan pengalaman mahasiswa selama di kampus.</p><p>Mahasiswa baru perlu tahu bahwa dengan adanya ketentuan dari Kemendikbud Ritek ini, bukan berarti mahasiswa tidak mengerjakan apapun sebagai syarat kelulusannya. Sebagai gantinya, jika perguruan tinggi bisa menerapkan <em>project-based learning</em>. Penerapan project-based learning dan asesmen inilah yang nantinya akan menunjukkan ketercapaian kompetensi lulusan sebagai ganti dari skripsi dan tugas akhir.</p><p><strong>Baca Juga : <a href="https://sobatsekolah.com/berita/ingin-jadi-sarjana-kampus-ini-buka/">Ingin Jadi Sarjana? Kampus Ini Buka Beasiswa Hingga 100%</a></strong></p><p>Apabila program studi sarjana/sarjana terapan sudah menerapkan kurikulum berbasis proyek atau bentuk lain yang sejenis, maka tugas akhir tersebut dapat dihapus atau tidak lagi bersifat wajib. Sebagai contoh kebijakan baru dari Kemendikbud Ristek ini adalah salah satu wisudawan UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) beberapa waktu lalu bisa diwisuda tanpa harus membuat skripsi dan mengikuti KKN (Kuliah Kerja Nyata).</p><p>Namun, mahasiswi bernama Dewi Meiliyan Ningrum ini sering mengikuti perlombaan selama kuliah. Terakhir dia mengikuti Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) di UMM (Universitas Muhammadiyah Malang).Dewi dan tim menjadi satu-satunya delegasi dari UNY. Meskipun masih belum berhasil membawa pulang medali, capaian ini tetaplah diakui oleh universitas yang mengekuivalensikan dengan KKN. Sehingga Dewi dan rekannya tidak perlu mengikuti KKN.</p><p><strong>Baca Juga : <a href="https://sobatsekolah.com/berita/program-diploma-sarjana/">Mau Dapat Dua Gelar Sekaligus? Yuk, Ikut Program Diploma Sarjana Universitas BSI</a></strong></p><p>Meski gagal meraih medali di Pimnas, Dewi berhasil meraih medali emas di ajang Lomba Inovasi Digital Mahasiswa (LIDM) Divisi Microteaching Digital bersama rekan-rekan tim dari jurusan Pendidikan Luar Biasa FIPP. Kemenangan ini kemudian ditebus dengan mengajukan ekuivalensi tugas akhir skripsi. Dewi kemudian bisa lulus dengan waktu studi 3 tahun 3 bulan berpredikat Cumlaude tanpa harus mengerjakan skripsi. Sehingga bisa disimpulkan bahwa syarat kelulusan sarjana kini tidak harus membuat skripsi tapi diganti dengan proyek lain. Proyek yang dibuat mahasiswa atau keikutsertaan mereka dalam suatu kompetisi kemudian bisa diajukan ekuivalensi ke pihak kampus untuk menggantikan penulisan skripsi atau bahkan KKN.</p><p>Sementara itu, dalam kebijakan baru Kemendikbud Ristek ini, mahasiswa jenjang magister masih diwajibkan membuat tesis untuk menyelesaikan studi mereka. Tugas tersebut bisa dibuat dengan berbagai bentuk, mulai dari tesis, prototipe, proyek, atau bentuk lainnya, namun tidak wajib diterbitkan di jurnal.</p>]]></content:encoded><wfw:commentRss>https://sobatsekolah.com/pendidikan/lulus-sarjana-tanpa-skripsi/feed/</wfw:commentRss><slash:comments>0</slash:comments></item><item><title>Yuk, Cari Tahu 10 Perbedaan Tugas Akhir Skripsi, Tesis dan Disertasi di Perguruan Tinggi</title><link>https://sobatsekolah.com/pendidikan/perbedaan-tugas-akhir/</link><comments>https://sobatsekolah.com/pendidikan/perbedaan-tugas-akhir/#comments</comments><dc:creator><![CDATA[Muhammad Rifqi Firdaus]]></dc:creator><pubDate>Thu, 05 Aug 2021 14:51:32 +0000</pubDate><category><![CDATA[Pendidikan]]></category><category><![CDATA[Disertasi]]></category><category><![CDATA[Skripsi]]></category><category><![CDATA[Tesis]]></category><category><![CDATA[Tugas Akhir]]></category><guid isPermaLink="false">https://sobatsekolah.com/?p=4396</guid><description><![CDATA[Perbedaan Tugas Akhir Skripsi, Tesis dan Disertasi-  Hallo sobat sekolah!!! Bisa meneruskan kuliah ke jenjang lebih...]]></description><content:encoded><![CDATA[<p><strong>Perbedaan Tugas Akhir Skripsi, Tesis dan Disertasi-  </strong>Hallo sobat sekolah!!! Bisa meneruskan kuliah ke jenjang lebih tinggi merupakan impian bagi banyak orang, terlebih jika lulus tepat waktu dan mendapatkan nilai dengan gelar <em><a href="https://www.tentangkampus.id/2020/01/apa-sih-cumlaude-itu-apa-manfaatnya.html#:~:text=Cumlaude%3A%20Seperti%20yang%20disebutkan%20sebelumnya,%2C5%20hingga%203%2C7." target="_blank" rel="noopener">cum laude</a>, </em>pastinya akan sangat membahagiakan sekali. Bukan hanya diri sendiri saja yang ikut merasa bahagia, namun Kedua Orang Tua serta Keluarga pun turut bangga atas prestasi yang telah dicapainya.</p><p>Mengingat pentingnya suatu kelulusan bagi Mahasiswa yang berada di tingkat akhir pada Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan  Perguruan Tinggi Swasta (PTS), sebelum mereka dinyatakan lulus mereka diwajibkan untuk melakukan suatu penelitian ilmiah terlebih dahulu, yang dinamakan dengan Tugas Akhir.</p><p>Tugas tersebut diberikan kepada masing-masing mahasiswa ketika hendak lulus, dengan memiliki beberapa persyaratan diantaranya harus lulus pada mata kuliah di tiap semester, memiliki nilai mata kuliah minimal B- atau C, sudah berada di semester akhir tingkat kuliah.</p><p>Akan tetapi, tidak semua jenjang kuliah memiliki tugas akhir yang sama. Ada beberapa perbedaan dari tiap-tiap tugas, dimana untuk jenjang Strata 1 (S1) yakni Skripsi, kemudian jenjang Strata 2 (S2) yakni Tesis dan untuk jenjang Strata 3 (S3) yakni Disertasi.</p><p>Sebelum, membahas lebih lanjut perbedaan dari Skripsi, Tesis dan Disertasi. Disini akan diberikan ulasan mengenai pengertian dari masing-masing tugas akhir tersebut.</p><p><strong>Baca Juga : <a href="https://sobatsekolah.com/tips/4-tips-mengerjakan-skripsi/" rel="bookmark">Ingin Lancar Dalam Mengerjakan Skripsi? Yuk, Simak 4 Tips Agar Cepat Lulus Kuliah</a></strong></p><h2>Skripsi</h2><figure style="width: 1000px" class="wp-caption aligncenter"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="size-medium" src="https://assets-a1.kompasiana.com/items/album/2019/07/22/blog-ide-tugas-akhir-atau-skripsi-untuk-mahasiswa-jurusan-komputer-tahun-2017-214-l-5d35af340d82305cee1c6365.jpg" alt="Tugas Akhir" width="1000" height="667" /><figcaption class="wp-caption-text">Foto: Ilustrasi Skripsi</figcaption></figure><p>Skripsi merupakan tugas akhir yang wajib dibuat oleh mahasiswa yang berada di tingkat akhir jenjang S1 di Perguruan Tinggi di Indonesia. Kalau di masa sekolah baik SD hingga SMA, penentuan untuk lulus tidaknya dilihat dari Ujian Nasional, maka Skripsi menjadi salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana.</p><p>Tugas Skripsi juga bertujuan untuk mengenalkan serta mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam menerapkan metode penelitian secara benar. Sehingga, peran pembimbing dalam membantu atau memandu penyelesaian Skripsi masih cukup besar.</p><p>Untuk segi penulisan, memiliki struktur yang sama dengan Tesis, seperti Pendahuluan, Tinjauan Pustaka, Pembahasan, Kesimpulan, Daftar Pustaka dan Lampiran. Penulisan Skripsi tidak boleh sembarangan, harus mengikuti kaidah yang berlaku.</p><p>Skripsi juga tidak boleh dipalsukan, karena hanya sebagai syarat dalam kelulusan, atau pun memplagiasi karya ilmiah dari orang lain. Karena setiap hasil penelitian yang sudah dituangkan dalam bentuk Skripsi, akan dicek. Kemudian, setelah selesai penyusunan Skripsi, mahasiswa akan disidang dan diuji oleh dosen.</p><p>Jika, mahasiswa tersebut dapat menjawab dengan baik akan pertanyaan yang diujikan oleh dosen, maka akan dinytakan lulus. Namun, jika di ujian sidang mahasiswa tersebut gagal menjawab, maka sudah dipastikan untuk mengulang Skripsinya kembali.</p><h2>Tesis</h2><figure style="width: 700px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" src="https://www.pelajaran.co.id/wp-content/uploads/2017/07/Tesis.jpg" alt="Tugas Akhir" width="700" height="400" /><figcaption class="wp-caption-text">Foto: Ilustrasi Tesis</figcaption></figure><p>Kemudian, tugas akhir yang kedua ialah Tesis. Tesis ini diperuntukkan bagi mahasiswa yang hendak lulus pada jenjang magister atau strata 2 (S2). Perbedaan dari Skripsi ialah kedalaman ilmu yang digunakan sebagai bahan penelitian, dimana tesis akan lebih <em>insight </em>dari pada Skripsi. Peran pembimbing pun juga lebih sedikit. Namun, mahasiswa S2 belum diharuskan untuk membuat penemuan baru seperti mahasiswa S3.</p><p>Dari segi penulisan, tesis ditulis berdasarkan pernyataan ataupun teori. Dimana, seorang mahasiswa yang sedang mengerjakan Tesis boleh menggunakan metodologi orang lain. Namun, selain memiliki beberapa perbedaan, terdapat beberapa persamaan dalam penulisan Skripsi dan Tesis, diantaranya kaidah penulisan masih bersifat sistematis.</p><p>Terkait dengan pengumpulan data, dapat menggunakan metode. Ada banyak metode dalam pengambilan data. Selain itu, diperlukan juga suatu analisis dari data yang telah diolah.</p><h2>Disertasi</h2><figure style="width: 750px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="size-medium" src="https://bahasa.foresteract.com/wp-content/uploads/2019/11/Disertasi.webp" alt="Tugas Akhir" width="750" height="422" /><figcaption class="wp-caption-text">Foto: Ilustrasi Disertasi</figcaption></figure><p>Kemudian yang terakhir yakni Disertasi. Disertasi masih sama halnya dengan Skripsi maupun Tesis, yang menjadi pembeda adalah jenjang kuliahnya, dimana Disertasi diperuntukkan untuk jenjang strata 3 (S3).</p><p>Program S3 merupakan program lanjutan dari jenjang S2, tentu saja disertasi merupakan pengembangan dari tesis. Tingkat kesulitannya akan lebih sulit dari program S1 dan S2, pasalnya pada program S3 nanti, mahasiswa diwajibkan untuk meneliti secara mandiri dan dapat menghasilkan penemuan baru, teknologi baru dan ilmu pengetahuan baru yang kebenarannya dapat dipertanggung jawabkan.</p><p><strong>Baca Juga : </strong><strong><a href="https://sobatsekolah.com/tips/10-langkah-sukses-cepat-lulus-kuliah/" rel="bookmark">10 Langkah Sukses Cepat Lulus Kuliah</a></strong></p><h2>Daftar Perbedaan Skripsi, Tesis Disertasi Secara Spesifik</h2><p>Untuk perbedaan  dari tugas akhir Skripsi, Tesis dan Disertasi secara spesifik ialah dapat lihat dari table dibawah ini :</p><table style="border-collapse: collapse; width: 100%; height: 672px;"><tbody><tr style="height: 28px;"><td style="width: 7.77778%; text-align: center; height: 28px;">No</td><td style="width: 32.2222%; text-align: center; height: 28px;">Aspek</td><td style="width: 20.5357%; text-align: center; height: 28px;">Skripsi</td><td style="width: 19.4643%; text-align: center; height: 28px;">Tesis</td><td style="width: 20%; text-align: center; height: 28px;">Disertasi</td></tr><tr style="height: 280px;"><td style="width: 7.77778%; text-align: center; height: 280px;">1</td><td style="width: 32.2222%; text-align: center; height: 280px;">Tema</td><td style="width: 20.5357%; text-align: center; height: 280px;">Dari pengalaman empiric (baik yang mendalam ataupun tidak).</td><td style="width: 19.4643%; text-align: center; height: 280px;">Diambil dari pengalaman empiric, teoritik, bersifat mendalam.</td><td style="width: 20%; text-align: center; height: 280px;">Diambil dari kajian teoritk yang didukung fakta empirik dan lebih mendalam dari skripsi dan tesis.</td></tr><tr style="height: 140px;"><td style="width: 7.77778%; text-align: center; height: 140px;">2</td><td style="width: 32.2222%; text-align: center; height: 140px;">Peran Penulis</td><td style="width: 20.5357%; text-align: center; height: 140px;">60% dilakukan penulis, 40% peran pembimbing.</td><td style="width: 19.4643%; text-align: center; height: 140px;">80% dilakukan penulis, 20% peran pembimbing.</td><td style="width: 20%; text-align: center; height: 140px;">90% dilakukan penulis, 10% peran pembimbing.</td></tr><tr style="height: 56px;"><td style="width: 7.77778%; text-align: center; height: 56px;">3</td><td style="width: 32.2222%; text-align: center; height: 56px;">Bobot</td><td style="width: 20.5357%; text-align: center; height: 56px;">Rendah &#8211; Sedang</td><td style="width: 19.4643%; text-align: center; height: 56px;">Sedang &#8211; Tinggi</td><td style="width: 20%; text-align: center; height: 56px;">Tinggi</td></tr><tr style="height: 28px;"><td style="width: 7.77778%; text-align: center; height: 28px;">4</td><td style="width: 32.2222%; text-align: center; height: 28px;">Rumusan Masalah</td><td style="width: 20.5357%; text-align: center; height: 28px;">1-2</td><td style="width: 19.4643%; text-align: center; height: 28px;">Min. 3</td><td style="width: 20%; text-align: center; height: 28px;">Lebih dari 3</td></tr><tr style="height: 28px;"><td style="width: 7.77778%; text-align: center; height: 28px;">5</td><td style="width: 32.2222%; text-align: center; height: 28px;">Metode/Uji Statistik</td><td style="width: 20.5357%; text-align: center; height: 28px;">Uji Kualitatif, Uji Deskirptif, Uji Statistic Parametc, Uji Hipotesis, Asosiatif, Korelasi  Regresi, Uji Beda, Uji Chi Square.</td><td style="width: 19.4643%; text-align: center; height: 28px;">Uji Kualitatif Lanjutan, Regresi Ganda, Korelasi Ganda, Path Analysis, SEM.</td><td style="width: 20%; text-align: center; height: 28px;">Metode Lebih Kompleks, Berbobot, Bertujuan Mencari Terobosan dan Teori Baru.</td></tr><tr style="height: 28px;"><td style="width: 7.77778%; text-align: center; height: 28px;">6</td><td style="width: 32.2222%; text-align: center; height: 28px;">Penguji</td><td style="width: 20.5357%; text-align: center; height: 28px;">Diuji Oleh Dosen Minimal Magister</td><td style="width: 19.4643%; text-align: center; height: 28px;">Diuji Oleh Dosen Minimal Doktor dan Magister Berpengalaman</td><td style="width: 20%; text-align: center; height: 28px;">Diuji Oleh Dosen Minimal Professor dan Doktor Berpengalaman</td></tr><tr style="height: 28px;"><td style="width: 7.77778%; text-align: center; height: 28px;">7</td><td style="width: 32.2222%; text-align: center; height: 28px;">Hasil Penemuan</td><td style="width: 20.5357%; text-align: center; height: 28px;">Tidak Harus Menemukan Hal yang Baru.</td><td style="width: 19.4643%; text-align: center; height: 28px;">Mengutamakan Tema Penelitian yan Baru.</td><td style="width: 20%; text-align: center; height: 28px;">Dapat Menghasilkan Teori dan Ilmu Pengetahuan Baru.</td></tr><tr style="height: 28px;"><td style="width: 7.77778%; text-align: center; height: 28px;">8</td><td style="width: 32.2222%; text-align: center; height: 28px;">Keaslian Penelitian</td><td style="width: 20.5357%; text-align: center; height: 28px;">Bisa Menduplikasi Penelitian Orang Lain, Namun Harus Menemukan Kasus yang Berbeda</td><td style="width: 19.4643%; text-align: center; height: 28px;">Mengutamakan Keaslian Penelitian Dari Penulis dan Belum Pernah Ada yang Menulis.</td><td style="width: 20%; text-align: center; height: 28px;">Diwajibkan Asli dan Tidak Boleh Plagiat.</td></tr><tr style="height: 28px;"><td style="width: 7.77778%; text-align: center; height: 28px;">9</td><td style="width: 32.2222%; text-align: center; height: 28px;">Hasil Penemuan</td><td style="width: 20.5357%; text-align: center; height: 28px;">Tidak Harus Menemukan Hal yang Benar-benar Baru.</td><td style="width: 19.4643%; text-align: center; height: 28px;">Mengutamakan Penelitian yang Benar-Benar Baru.</td><td style="width: 20%; text-align: center; height: 28px;">Dapat Menghasilkan Teori dan Ilmu Pengetahuan Baru.</td></tr></tbody></table><p>Nah, itulah tadi perbedaan dari masing-masing tugas akhir antara Skripsi, Tesis dan Disertasi, semoga dengan ini sobat menjadi tahu perbedaan dari masing-masing ketiga hal tersebut. Dan, bagi kamu yang sedang menyusun tugas akhir Skripsi, Tesis ataupun Disertasi, mudah-mudahan mendapat hasil yang baik dan dilancarkan untuk proses pengerjaanya. Tetap Semangat!!!</p>]]></content:encoded><wfw:commentRss>https://sobatsekolah.com/pendidikan/perbedaan-tugas-akhir/feed/</wfw:commentRss><slash:comments>9</slash:comments></item></channel></rss>